Text
Granada: Genosida Kebudayaan di Andalusia
KURANG lebih delapan abad lamanya, Islam mengalami kejayaan di Spanyol (Andalusia) --dari Cordoba hingga Granada. Tetapi kejayaan Islam di Andalusia itu tinggal kenangan. Kemenangan pasukan Thariq bin Ziyad -yang mampu mengalahkan pasukan Kristen di Muara Sungai Barbate (711 M)- kini pun tinggal cerita. Padahal, dari perjuangan Thariq itu, kemudian berdiri kerajaan Islam di tanah Spanyol; di Toledo, Malaga, Cordoba dan Granada.
Keberadaan istana Alhamra, Granada bisa disebut sebagai puncak sekaligus keruntuhan Islam di Andalusia. Setelah berkuasa selama 260 tahun (1232-1492), keturunan Bani Ahmar (dinasti Sultan Muhammad bin Al-Ahmar) berselisih. Tak pelak, jika pertengkaran itu pun harus dibayar mahal, lantaran membawa keterpurukan. Padahal, musuh kian menguat. Apalagi setelah Raja Ferdinand V (dari Aragon) dan Ratu Isabella (dari Castille) menikah. Praktis, dua (2) kekuatan yang bersatu itu lantas berhasil menaklukan Alhambra, 2 Januari 1492 setelah tentara Castile mengepung Granada selama tujuh bulan. Maka, berakhirlah kejayaan Islam di Spanyol, dan umat Islam di Granada menelan pil pahit di bawah pendudukan penguasa Kristen.
Detik-detik terakhir kejatuhan Granada itu dikisahkan Radwa Ashour dalam Granada Genosida Kebudayaan di Andalusia ini. Dengan mengangkat cerita keluarga Abu Jaafar yang hidup di masa-masa pendudukan tentara Castile, pengarang yang mendapat galar Ph.D (tentang sastra Afro-Amerika) dari University of Massachusetts ini seakan hendak "menggugat" kristenisasi paksa --yang dimaklumatkan oleh penguasa Kristen. Padahal sebelum itu keluarga Abu Jaafar bisa dikata hidup dalam kedamaian; menjalankan ibadah dengan bebas.***
| 05871 | 813 RAD g c.1 | My Library (RAK 800) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain