Text
Aggelos : Mereka Jatuh Cinta, Tetapi Dunia Mereka Berbeda
Viola Mondru Sedih banget. Dia-sekali lagi-terancam gagal ikut Celeste Pons, sebuah kontes balet lokal yang cukup bergengsi. Apa sih ancaman kegagalan Viola kali ini? Ternyata kontes tahun ini mengharuskan peserta untuk disertai musisi pengiring, bukan iringan musik dari CD.
Dengan tenggat waktu kontes yang tinggal beberapa minggu, Viola kesulitan menemukan pengiring yang tepat, meski ia dibantu sepupunya, Karen. Sampai ia harus mengadakan audisi kecil-kecilan di sekolah, tapi tetap saja gak berhasil.
Di satu kesempatan, Viola dikejutkan orang yang mengacak-acak kamarnya. Orang itu ternyata adalah seorang cowok tampan menyebalkan yang ia temui di taman. Apa yang dilakukan cowok itu di kamarnya? Siapa sebenarnya dia? Kenapa si cowok berkeras kamar Viola adalah kamarnya?
Di sekolah Viola kembali terkejut menemui ternyata cowok itu adalah murid baru di sekolah. Bahkan dia juga tetangga depan rumah Viola dan Karen. Belum cukup kesebalannya, ternyata Karen naksir cowok itu. Tambah lagi? Ternyata cowok itu mampu main biola dengan cantik, memainkan lagu yang menurut viola paling pas untuk jadi pengiring tariannya. Bagaimana caranya membujuk cowok menyebalkan itu untuk mau mengiringi Viola di kontes Celeste Pons?
Pertanyaan mendasar lainnya adalah, siapa sebenarnya cowok itu? Apa yang dilakukannya hingga sampai ke halaman 250 novel Aggelos ini isinya cuma adu mulut sok imut tanpa kejelasan plot? Apa yang sebenarnya ingin diceritakan si pengarang: kisah cinta gak jelas antara Viola dan Slaven, alat musik ajaib yang misterius, sebab musabab keberadaan Slaven di bumi, atau apa lagi?
Baru sekali ini aku baca novel yang penuh omong kosong. Padahal awalnya aku cukup berharap banyak dari sinopsis di sampul belakangnya. Pengambilan setting-nya juga gak umum, hingga aku kira bakal ketemu cerita yang super asik. Sayang jalan ceritanya aneh, terlalu banyak adegan yang maunya cute dan heboh tapi akhirnya terbaca maksa. Contoh: Viola pas nuduh Slaven nyuri sandwich-nya di taman. Trus Viola nggetok pala Slaven di kamar, dan banyak lagi. Sampe enek. Belum lagi ceritanya yang gak fokus, karakter para tokohnya juga gak ada yang nyantol di hati. Si Viola terlalu cengeng dan lembek, si Slaven sok misterius tapi nanggung.
Bahasan akhir, adalah si pengarang sendiri.
Saat lihat novel ini di display toko, aku kira novel ini adalah bikinan pengarang luar negeri, secara kebanyakan novel bergenre fantasi memang bersumber dari luar. Tapi begitu aku punya kesempatan untuk membuka-buka bagian dalamnya, aku lihat ucapan terima kasih kok pada Mbak … Bang … Mas … Pak …. Gak mungkin banget kan, kalo penerjemah bilang makasih pada tante-tante atau engkongnya? Akhirnya aku sampai di halaman 6 yang tidak mencantumkan nama penerjemah. Trus juga gak ada nama penerbit asli dari luar. Jadi kesimpulannya sih, berarti pengarang lokal.
Aku bukannya anti pengarang lokal lho ya … Tapi pengarang lokal dengan nama interlokal. eh, nama bule? Kayaknya kok terlalu kebetulan ya. Semoga ini bukan kasus yang harus dibongkar dengan teori postkolonialisme. Semoga nama pengarang memang asli Harry K. Peterson, hingga pemilihan nama bukan karena inferioritas si penulis yang notabene orang Indonesia dan sedang berhadapan dengan karyanya yang genrenya selama ini menjadi hegemoni bangsa Barat, sehingga ia merasa perlu menggunakan nama alias berbau Barat untuk legalitas dan penerimaan di kalangan penggemar genre fantasi. Karena bagiku, bukan akar si pengarang yang bakal menentukan tingkat kebagusan sebuah karya, tapi bagaimana ia membuat plot, bagaimana ia mengisinya dengan karakter yang kuat, dan bagaimana craftmanship dari awal hingga akhir cerita. Sayang sekali, ketiga kategori itu ambruk di dongeng Aggelos ini.
| 05927 | 813 HAR a c.1 | (RAK 800) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain