Text
Pengakuan Dosa
Aku memanggilnya si Kuning. Sesosok perempuan Tionghoa berambut sebahu, dengan wajah rata tanpa mata, hidung, dan mulut, hanya lekukan yang terlihat. Biasanya aku akan ketakutan setiap melihat hantu, tapi tidak kali ini. Mungkin karena wujudnya yang bagus, atau bisa juga karena dia tidak ada usaha untuk menyerang seperti yang biasanya kualami.
Potongan ingatan akan pertemuan dengannya muncul samar-samar. Aku mengingat pernah bermain, berlari dengannya di tengah hujan. Aku juga mengingat dia pernah berjalan bersamaku di koridor rumah lama ketika aku masih kecil.
Keberadaannya mengurangi stres yang kualami. Meski tak banyak bicara, aku tak lagi merasa sendiri. Rasanya sangat miris, menaruh perasaan senang pada teman yang bukan manusia. Kurasa tak apa, jauh lebih baik daripada harus seorang diri menghadapi tekanan ini.
Siapa yang ingin memiliki kemampuan ini jika itu berarti: keluargaku menentang, orang-orang menganggapku aneh, kesehatan fisik dan mentalku turun drastis. Aku hanya ingin mengakhiri malam-malamku yang penuh teror akan kehadiran “mereka” dengan menutup mata batinku. Aku hanya ingin hidup tenang dan bisa tidur.
“Bukan hanya orang awam yang menganggapku gila. Sesamaku yang sama seperti ku juga menganggap ku demikian.Aku tak keberatan, setidaknya aku telah mengatakan kebenaran.”
“Aku lebih baik dianggap berbohong oleh orang banyak, daripada harus berbohong pada diri sendiri.”
“Hantu ada di mana-mana, tidak semuanya buruk atau jahat seperti yang orang awam ketahui. Ada yang terjebak di sini karena masalah yang belum sempat selesai, tuntas, ada penyesalan, hingga pengakhiran hidup.”
“Seseorang yang tidak percaya terhadap eksistensi makhluk halus hanya akan percaya ketika ikut merasa atau mendapat bukti. Jika itu tidak terjadi, maka ia hanya akan sadar ketika ajal sudah di hadapannya.”
| 10245 | 813 FIL p c.1 | My Library (RAK 800) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain